Sabtu, April 20, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaWartaSentilan Kapolri Soal Polarisasi Politik Ditujukan Untuk Elit Politisi

Sentilan Kapolri Soal Polarisasi Politik Ditujukan Untuk Elit Politisi

GARUT, WARTA PEMILU – Polarisasi masyarakat dan politik identitas akibat dari Pemilu 2019, menjadi satu bahasan khusus yang disampaikan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-76 yang diadakan di Akademi Kepolisian, Semarang, Rabu (5/7/2022).

Polarisasi masyarakat akibat politik identitas yang terjadi pada Pemilu 2019, menurut Listyo hingga saat ini, yang sudah memasuki tahapan Pemilu 2024 masih terasa. Karenanya, Listyo meminta agar polarisasi masyarakat dan politik identitas tidak lagi terjadi dalam Pemilu 2024.

Pernyataan Kapolri terkait polarisasi politik tersebut, di mata coordinator Simpul Aktivis Angkatan 98, merupakan pesan yang ditujukan kepada para elit politik dari Kapolri agar tidak lagi menggunakan isu tersebut dalam Pemilu 2024 nanti.

“Polarisasi dan politik identitas, bukan produk arus bawah pemilih, tapi (produksi) elit politik,” tegas Hasanuddin, Rabu (5/7/2022).

Hasan melihat, karena polarisasi politik jadi produk elit politik, sikap kenegarawanan politisi penting untuk bisa mengakhiri polarisasi dan politik identitas. Hasan pun melihat, dari apa yang disampaikan Kapolri, ada optimisme dalam pelaksanaan Pemilu 2024.

Hasan melihat, contoh teladan kenegarawanan, setidaknya bisa dilihat dari sikap Prabowo Subianto yang pasca kalah dalam Pilpres 2019, masih mau bergabung dalam pemerintahan sebagai langkah untuk mengakhiri polarisasi. Meski pada akhirnya sikap Prabowo menuai kritik dari sebagian pendukungnya dan juga pendukung Jokowi.

“Sikap ini menjadi contoh dan tauladan kenegaraan bahwa politik Pemilu, ditujukan pada kepentingan bangsa dan Negara,” katanya.

Hasanuddin juga melihat, selama menjadi menteri, Prabowo mampu menunjukan loyalitasnya pada Presiden Jokowi karena tidak melakukan manuver-manuver politik yang merugikan pemerintah hingga melakukan politik dua kaki dalam kabinet yang dipimpin Jokowi.

‘Kita patut apresiasi, tidak ada manuver politik, kasak-kusuk, politik dua kaki, tapi loyal pada Jokowi,” katanya. (*)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments