Sabtu, April 20, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaPolitikPoros Politik Makin Mengerucut Paska Pencapresan Anies Baswedan

Poros Politik Makin Mengerucut Paska Pencapresan Anies Baswedan

Yogyakarta, WartaPemilu Poros politik makin mengerucut paska pencapresan Anies Basweda oleh Partai Nasional Demokrat (NasDem). Disebutkan minimal ada tiga poros politik yaitu  Poros Gondangdia, KIR, dan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB). 

Hal ini dikatakan oleh Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro. Ia menyebut poros Gondangdia adalah Partai NasDem, Partai Demokrat dan PKS walau belum meneken kesepakatan untuk koalisi namun arahnya akan ke sana.

“Karena secara institusional baik Nasdem, Demokrat, dan PKS memiliki komunikasi yang baik dan secara personal, sosok Anies diterima pula oleh Demokrat dan PKS,” kata Agung seperti dilansir laman tempo.co.

Namun menurut Agung konstelasi tiga poros dapat berubah dengan PDI Perjuangan melakukan manuver politik.

Saat ini PDI Perjuangan memang memiliki golden ticket untuk maju di Pilpres secara mandiri, namun kemungkinannya kecil mengingat Puan intensif berkomunikasi dengan partai lain.

Saat ini, Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KIR) yang terdiri atas Partai Gerindra-PKB telah mengusung Prabowo. Adapun Koalisi Indonesia Bersatu masih belum menetapkan capresnya.

Agung menyebut kehadiran Anies sebagai capres memberikan sinyal bahwa NasDem ingin meredam polarisasi.

Menurutnya, Anies identik sebagai antitesis Presiden Joko Widodo (Jokowi). Disisi lain, NasDem merupakan tesis karena posisinya sebagai partai yang loyal terhadap Pemerintah.

“Sehingga, persinggungan antara tesis-antitesis ini, melahirkan sintesis, bahwa kepentingan bangsa atau semangat rekonsiliasi di atas segalanya setelah selama dua periode terbelah,” kata dia.

Pasca mendeklarasikan Anies, Agung mengatakan langkah Partai NasDem selanjutnya adalah memilih Cawapres.

Adapun Partai Demokrat dan PKS telah memiliki nama-nama jagoan di internalnya. Ia menyebut ketiganya mesti segera menyepakati parameter yang digunakan untuk menentukan pendamping Anies.

“Tinggal nanti disepakati parameter yang digunakan sehingga, waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama agar bisa selangkah lebih maju dibanding koalisi lainnya. Karena bila tidak, poros ini bisa layu sebelum berkembang,” ujarnya.

Ditempat terpisah, In’AM eL Mustofa, Direktur Eksekutif LeSPK Yogyakarta menggarisbawahi bahwa Pemilu yang akan datang memang sebaiknya disemangati untuk memulihkan keterbelahan yang tak berujung, dengan semangat kebangsaan serta berkompetisi secara fair.

“Penyelenggara Pemilu dalam hal ini KPU jangan sampai goyah jika diintervensi oleh kepentingan politik salah satu pasangan Capres-Cawapres ataupun gerombolan orang yang ingin memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan demokrasi,” kata In’Am. Selasa (4/10/2022).

Lanjutnya, Jika disemangati oleh kebangsaan PDI Perjuangan lebih baik tidak serta merta mencalonkan Capres-Cawapres tanpa teman, menggandeng partai lain tetap diperlukan.

“Letak kedewasaan dalam bernegosiasi dan lobby politik merupakan tolok ukur kematangan dalam berbeda pendapat,” imbuhnya.

Soal Anies sudah dipinang oleh Nasdem, jalan masih panjang dan berliku meskipun demikian Anies Baswedan pantaslah untuk sedikit lega.

“Saya sebut sedikit karena koalisi yang terbentuk masih berpotensi bubar jika AHY bukan menjadi cawapres Anies Baswedan. Alhasil Nasdem dan PKS memerlukan gerak cepat, atau paling tidak plan B,” ungkap In’Am.

Masih kata In’Am, Dari koalisi KIB, yang bisa berubah sikap kemungkinan besar adalah PAN.

“Maka sekarang publik menunggu siapa yang akan diajak koalisi oleh PDI Perjuangan, titah Megawati adalah harga mati. Itulah maksud Suryo Paloh ketika memajukan pengumuman/deklarasikan Anies Baswedan,” cetusnya.

Bagaimana peluang Anies?

Kelemahan Anies adalah masuk di basis-basis Nahdlatul Ulama dan para relawannya banyak yang beririsan dengan pendukung Prabowo.

Jalan terbaik baik bagi Anies adalah mengambil pasangan Cawapres dari Nahdliyyin serta memastikan partai koalisinya memiliki struktur dan budaya organisasi maupun pergerakan yang kuat.

“Dua hal ini jangan diabaikan, abai sama saja menjemput kekalahan,” tandas Direktur Eksekutif LeSPK Yogyakarta, In’AM eL Mustofa.(*)

BACA juga berita menarik lainnya di Kabariku.com ‘Aktif Memberi Kabar’

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments