İstanbul escort bayan sivas escort samsun escort bayan sakarya escort Muğla escort Mersin escort Escort malatya Escort konya Kocaeli Escort Kayseri Escort izmir escort bayan hatay bayan escort antep Escort bayan eskişehir escort bayan erzurum escort bayan elazığ escort diyarbakır escort escort bayan Çanakkale Bursa Escort bayan Balıkesir escort aydın Escort Antalya Escort ankara bayan escort Adana Escort bayan

Senin, Maret 4, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
BerandaPolitikSIAGA 98: Politisi Konyol Dalam Wacana Sistem Pemilu Proporsional Terbuka dan Tertutup

SIAGA 98: Politisi Konyol Dalam Wacana Sistem Pemilu Proporsional Terbuka dan Tertutup

WartaPemilu – Kekeliruan memahami posisi partai politik (Parpol), politisi parpol dan lembaga legislatif (DPR) karena melihatnya sepotong-sepotong dan mereduksinya semata dalam cara pandang sistem Pemilihan Umum (Pemilu).

Celakanya sistem Pemilu legislatif yang proporsional di kontestasikan dan dikomparasikan baik buruknya, efektifitas dan efisiensinya antara tertutup dan terbuka.

Demikian dikemukakan Hasanudin, Koordinator Simpul Aktivis Angkatan 98 (SIAGA 98) yang menilai akibatnya sistem Pemilu proporsional ini, baik tertutup maupun terbuka menjadi buruk keduanya, setidaknya dalam wacana yang berkembang karena argumentasinya yang bersifat politis.

SIAGA 98 memandang bahwa terbuka maupun tertutup dalam sistem Pemilu proporsional adalah sama-sama demokratis dan sama-sama dapat diberi  landasan hukum sehingga dapat dilakukan, tergantung pembuat peraturannya (open legal policy).

“Sistem memilih legislatif dapat apa saja diterapkan, baik distrik, proporsional ataupun campuran. Diantaranya tak dapat diuji atau dipersoalkan derajat demokratisnya bahkan menolaknya sebagai tidak demokratis,” ucap Hasanuddin.

Sebab, Aktivis 98 ini menegaskan, sistem ini dalam ruang lingkup pelaksanaan demokrasi Pemilu!.

Jadi hentikan kekonyolan memperdebatkan tertutup atau terbuka dalam sistem pemilu proporsional.

Hasanuddin menjelaskan, Dalam hal hendak dicari kesesuaian bangunan demokrasi dalam lembaga legislasi kita, maka, membangunan sistem rekruitmen anggota legislatif salah satu dari varian proporsional.

“Tertutup atau terbuka haruslah dilihat dan diukur dari dari cara bekerjanya legislatif kita dan sistem yang bekerja di legislatif (DPR),” cetusnya.

Menurutnya, Jika ini ditelusuri dari jejak cara bekerja dan sistem kerja legislasi DPR, yang memperlihatkan dominasi keputusan politik pada partai politik via fraksi.

“Dan bukan orang-perorang, maka semestinya Sistem Pemilu kita agar sebangun dalam kontruksi bekerja legislatif adalah sistem pròporsional tertutup,” tegasnya.

Namun kenyataannya adalah sistem yang digunakan adalah proporsional terbuka. Wajar saja, Hasabuddin berujar, karena bangunan politik legislatif kita tidak terkontruksi dengan benar.

Setiap produk legislasi, digugat (dimohonkan) diuji kembali oleh partai politik melalui jalur hukum Mahkamah Konstitusi (MK).

“Ini ironis! Dan kekonyolan yang demokratis,” tandasnya.(*)

Berita telah tayang di Kabariku.com

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments